Politeknik Kesehatan Kemenkes

TRY OUT CPNS 2021

Pusat Pembelajaran CPNS ONLINE 2021.

Siap CPNS 2021?

Tersedia Soal-soal CPNS dan Trayout CPNS 2021

Sabtu, 30 November 2013

Rajinlah Konsumsi Makanan Enak Ini Agar Terhindar dari Diabetes

Kelebihan berat badan, pola makan salah dan kurang olahraga menjadi pemicu penyakit diabetes. Banyak bahan makanan yang bisa dikonsumsi rutin untuk mengatur kadar gula darah agar tidak terkena diabetes.

Selain mengatur pola makan sehat dan tidak mengonsumsi gula dan kalori berlebihan, konsumsi bahan makanan tertentu juga bisa mencegah diabetes. Beberapa makanan seperti dilansir dalam timesofindia.com (29/11/2013)ini dapat mencegah terjadinya diabetes:

1. Kunyit
Studi menyatakan bahwa kurkumin, dapat membantu mencegah diabetes dengan mengendalikan berat badan. Juga mencegah penumpukan lemak berbahaya pada tubuh. Kunyit mengandung antiglikemik yang membantu mengatur dan menyeimbangkan kadar insulin.

2. Strawberry
Mengonsumsi strawberry membantu mengaktifkan protein dalam tubuh yang mengurangi kolesterol LDL dan lipid darah. Selain itu, juga bermanfaat dalam menurunkan kadar glukosa darah.

3. Keju dan yogurt
Keju dan yogurt yang rendah lemak mengandung bakteri sehat. Para ahli percaya bakteri ini memberi dampak positif untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

4. Kayu manis
Memiliki banyak manfaat kesehatan. Salah satunya membantu menurunkan kadar glukosa darah saat puasa. Juga diketahui dapat menurunkan kadar trigliserida, kolesterol LDL dan meningkatkan sensitivitas insulin. Taburkan di atas roti yang dipanggang atau campurkan dalam adonan kue dan minuman.

5. Bayam
Kaya akan nutrisi yang baik untuk kesehatan. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa mengonsumsi bayam setiap hari dapat mengurangi resiko diabetes sebesar 14 persen.

6. Apel
Apel segar mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat untuk mengatur kadar gula darah. Selain itu juga mengandung serat yang baik untuk kesehatan pencernaan.






Share:

Sabtu, 05 Oktober 2013

Institut Kesehatan Muhammadiyah (IKM) Makassar

Institut Kesehatan Muhammadiyah (IKM) Makassar akan segera terbentuk.
Sebanyak enam Akademi binaan Muhammadiyah Sulsel akan dilebur pada pendirian IKM Muhammadiyah tersebut.
Keenam akademi tersebut masing-masing Akademi Keperawatan (Akper), Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL), Akademi Kebidanan (Akbid), Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO), Akademi Teknik Elektromedik (ATEM), serta Akademi Analis Kesehatan (Anakes) Muhammadiyah Makassar.
Wakil Ketua BPH Akademi Kesehatan Muhammadiyah Makassar, Dr HM Furqaan Naiem MSc, mengatakan, perubahan menjadi institute lebih realistis dibandingkan perubahan menjadi Sekolah Tinggi atau Politeknik Kesehatan (Poltekkes).
“Kami akan membentuk tim kecil untuk persiapan perubahan dari akademi menjadi institute,” kata Furqaan, pada Raker Lanjutan Akademi Kesehatan Muhammadiyah, di Hotel Favor Jl Lasinrang, Makassar, Minggu, 8 September 2013.
Selain itu, dosen FKM Universitas Hasanuddin itu juga mengusulkan pembentukan program studi baru, yakni prodi Farmasi, prodi Ilmu Gizi, prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta prodi Administrasi dan Pelayanan Kesehatan.
Ketua Panitia Pelaksana Nur Adzan SKM MKes, mengatakan, berbagai masalah dan usulan pengembangan kampus telah dibahas pada Raker di tempat yang sama, pada 30-31 Agustus 2013.
“Rapat kerja lanjutan ini mempertajam hasil pembahasan rapat kerja pekan lalu,” katanya seraya menambahkan bahwa rapat kerja diikuti para direktur, dosen, staf, dan perwakilan mahasiswa (BEM dan IMM).
Nur Adzan mengatakan, panitia mengundang beberapa pembicara untuk memberikan masukan, yaitu Dr Ibrahim Saman MM, Dr HM Furqaan Naiem MSc (Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah IX Sulawesi), Prof Dr Gagaring Pagalung MS Ak, Dra Hj Wahbah SKM MKes, dan Ir HM Syaiful Saleh MSi (Ketua BPH Unismuh Makassar).
Share:

Sabtu, 04 Mei 2013

Kemenkes Gandeng Sanofi Cegah Diabetes

Kemenkes Gandeng Sanofi Cegah Diabetes


Gaya hidup tidak sehat menjadi penyumbang terbesar meningkatnya kasus diabetes mellitus di Indonesia sementara yang lain berasal dari faktor genetik.

"Bagaimana tidak meningkat. Rokok jalan terus, kurang aktivitas tubuh, dan tidak makan sayur," ujar Direktur Penyakit Tidak menular, Dirjen PP&PL Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Ekowati Rahajeng, SKM, M. Kes dalam Media Briefing bertajuk "Partnership for Diabetes Control in Indonesia", di Jakarta, Sabtu (4/5/2013).

Ekowati menyebutkan bahwa penyebab terbanyak dari penderita diabetes adalah 80 persennya dari gaya hidup, dan 20 persen dari faktor genetik.

Melihat kemungkinan yang tidak mengenakkan seperti ini, membuat pihak Kementerian Kesehatan terus menggalang kerja sama dengan pihak swasta untuk mencegah agar tidak semakin banyak masyarakat yang terkena diabetes dan tidak akan pernah membiarkan orang yang sakit diabetes tidak diobati.

Sejak November 2011 telah dilakukan Penandatanganan Kerjasama Program Corporate Social Responsibility (CSR) antara Kementerian Kesehatan dengan 23 Dunia Usaha/Swasta dan Badan Usaha Milik Negara, salah satunya Sanofi Group Indonesia.

Tujuannya untuk mendukung dan memberi kontribusi dalam pembangunan kesehatan serta mendorong pencapaian target Milleniun Development Goals (MDGs) bidang kesehatan. Ruang lingkup kesepakatan bersama difokuskan pada peningkatan Kesehatan Ibu, Penurunan Kematian Anak, Peningkatan Status Gizi Masyarakat, Pengendalian Penyakit Menular, Penyehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dengan berbagai upaya kesehatan baik promotif, preventif, dan kuratif maupun rehabilitatif.

Salah satu wujud nyata kemitraan dengan Sanofi adalah fokus pada pencegahan diabetes dengan menjalankan program Train of Trainers dengan sasaran 5.500 tenaga kesehatan dalam jangka waktu 5 tahun.

"Semoga tahun-tahun berikutnya tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia. Jadi, ke depannya pihak medis banyak yang dapat menangani diabetes ini," kata Ekowati.
Share:

Isi Surat Edaran Kemenkes Soal Novel Coronavirus

Isi Surat Edaran Kemenkes Soal Novel Coronavirus

Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof Tjandra Yoga Aditama, telah membuat surat edaran ke Dinas Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) seluruh Indonesia untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap Novel Coronavirus.

Ini isi surat edaran tersebut:

1. Meningkatkan surveilans terhadap kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang mungkin ditemukan di masyarakat khususnya pada kasus klaster (cluster).

2. Peningkatan kewaspadaan di Rumah Sakit dengan pengamatan semua kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani dengan seksama serta dilakukan pemeriksaan laboratorium.

3. Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas di pintu masuk negara.

4. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas khususnya bagi jemaah umrah untuk selalu menjaga kesehatannya dan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan bila sakit dengan gejala seperti tersebut di atas, serta selalu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) termasuk cuci tangan pakai sabun (CTPS), namun tidak perlu menimbulkan kepanikan bagi masyarakat.

5. Segera melaporkan kepada Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI bila menemukan kasus dengan gejala seperti tersebut diatas melalui sarana POSKO KLB (Kejadian Luar Biasa).

''Saya  terus berkoordinasi dengan WHO Jenewa dan WHO Jakarta untuk mengetahui perkembangan situasi epidemiologis virus novel ini. Sampai hari ini tidak ada kasus di Indonesia dan di Asia,'' kata Tjandra.
Reporter : Neni Ridarineni
Redaktur : Dewi Mardiani
Share:

Rabu, 01 Mei 2013

Kemenkes Bingung dengan Laporan BPK


Kemenkes Bingung dengan Laporan BPK

Laporan BPK
 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bingung dengan hasil Ikhtisar Laporan Hasil Pemeriksaan Semester II 2012 Badan Pemeriksaan Keuangan (BK) yang diserahkan ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pada laporan yang diberikan ke DPD, dinyatakan BPK menemukan sebanyak 2.944 kasus dari program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) senilai Rp4,61 triliun yang berdampak merugikan negara.

Di sisi lain, BPK memberikan ikhtisar laporan berbeda yang diberikan pada Kemenkes. "Dari laporan Jamkesmas/Jamkesda 2012 yang diberikan BPK ke Kemenkes, dipastikan tidak ada masalah. Saya malah bingung kalau kesimpulan laporan yang diberikan ke DPD berbeda," ujar Kepala Pusat Jaminan Kesehatan Kemenkes Usman Sumantri saat dihubungi, Selasa (30/4).

Pada laporan pelaksanaan Jamkesmas 2012 yang baru diterima Kemenkes beberapa bulan lalu, BPK hanya menyebutkan ada kesalahan pengembalian uang Jamkesmas ke kas negara. Kasus salah pengembalian itu, menurut Usman, ada dua. "Harusnya uang itu dikembalikan ke kas negara, tapi salah dimasukkan ke kas daerah," runutnya.

Usman menjelaskan itu kealpaan kecil yang segera diluruskan. Dana yang sudah telanjur dicemplungkan ke rekening daerah itu telah ditarik dan dikembalikan ke kas negara.

Menanggapi laporan BPK ke DPD, terus terang Usman mengaku tidak bisa memberi penjelasan lebih jauh. "Laporannya saja belum saya lihat," dalihnya. (Cornelius Eko Susanto)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bingung dengan hasil Ikhtisar Laporan Hasil Pemeriksaan Semester II 2012 Badan Pemeriksaan Keuangan (BK) yang diserahkan ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Share:

Kamis, 25 April 2013

Poltekkes Kerja Sama dengan Lima Institusi LN

Poltekkes Seamang

Poltekkes Kerja Sama dengan Lima Institusi LN

Menteri Kesehatan (Menkes) RI dokter Nafsiah Mboi SpA MPH menitipkan pesan untuk 200 wisudawan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Semarang. ‘’Bu Menteri berpesan agar wisudawan bekerja dengan keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas,’’ kata Kepala Pusdiklatnakes Kemenkes RI dokter Donald Pardede M PPM.

Dia menyampaikan pesan itu dalam sambutan Wisuda Ke-78 Poltekkes Kemenkes Semarang, di Patra Convention Hotel, Kamis (11/4). Dia mengharapkan para wisudawan bisa menjadi tenaga kesehatan yang andal dan siap menjalankan tugasnya di mana pun berada. Khususnya para bidan diminta mau mengabdikan diri di daerah dengan penuh tanggung jawab. ‘’Saya dengar banyak bidan desa yang tidak mau berdomisili di sana. Karena itu, perlu ada pengawasan oleh pihak terkait, agar kematian ibu melahirkan dan bayinya bisa terus ditekan.’’

Dalam wisuda tersebut Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang Sugiyanto SPd MAppSc melepas 200 lulusan dari program D-3 Jurusan Keperawatan (1), Keperawatan Gigi (40), Gizi reguler (4). Adapun untuk D-4 meliputi Bidan Pendidik (50), Gizi (27), Keperawatan Jiwa dan Kebidanan Komunitas di Magelang masing-masing 26 dan 48 lulusan.

Untuk meningkatkan mutu lulusan, Poltekkes menjajaki kerja sama dengan lima institusi di luar negeri. Yakni, dengan Queensland University of Technology (QUT)  untuk peningkatan mutu pendidikan, kurikulum keperawatan dalam pencapaian international recognition. Lalu, kerja sama dengan University Technology Mara (UITM) Malaysia, Prince of Songkla University Thailand, dan Medical Colege Makati di Manila untuk bidang akademik, budaya, ilmu pengetahuan, riset serta pertukaran mahasiswa dan dosen.
Adapun dengan Normah Medical Specialist Center Malaysia, meliputi kerja sama kunjungan, testimoni lulusan, riset, dosen magang, dan pertukaran informasi melalui pertemuan ilmiah.
Share:

Buku CPNS 2021

Tryaout CPNS 2021