Politeknik Kesehatan Kemenkes

Jumat, 15 Juli 2011

Petani Tembakau Serbu Kemenkes

Sekitar 3.000 petani tembakau dari berbagai wilayah di Kabupaten Temanggung nglurug ke Jakarta, Selasa (12/7/2011). Mereka berangkat menggunakan 59 kendaraan bus. Sesuai perencanaan, mereka akan menggelar aksi menolak Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan di Kementrian Kesehatan (Kemenkes) selama dua hari, pada tanggal 13 dan 14 Juli.

Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung ini juga akan bergabung bersama ribuan massa petani tembakau dari kabupaten dan kota lainnya di Indonesia.

Menurut Koordinator Aksi, Agus Setiawan, sebenarnya ada sekitar 5.000 petani yang akan ikut berangkat bersama ke Jakarta. Namun karena keterbatasan alat transportasi dan koordinator lapangan, terpaksa hanya memberangkatkan 3.000 peserta saja. Mereka berasal dari 14 kecamatan sentra tembakau di wilayah Temanggung.

“Selain itu, kami pikir akan mengalami kendala (jika 5.000 berangkat semua), karena tenaga koordinir aksi terbatas. Begitu pula dengan bus yang kami sediakan hanya 59 bus. Jadi kami terpaksa menolak sejumlah peserta dari sejumlah desa yang ingin ikut,” jelasnya.

Agus yang juga merupakan Kepala Desa Campursalam, Kecamatan Tretep, juga mengatakan, dalam setiap bus ditempatkan satu orang koordinator rombongan. Yang bertugas mengawasi perjalanan dan saat aksi berlangsung di Jakarta nanti. Hal ini, untuk meminimalisir adanya penyusup untuk memprovokasi aksi.

Aksi dengan jumlah massa yang besar, lanjutnya, membutuhkan ketelitian dan kecermataan koordinator. Sehingga dapat mencegah adanya orang yang akan memanfaatkan tujuan aksi. Karena itulah, pihaknya tidak mau menambah koordinator dengan orang yang sembarangan.

Dalam aksi ini, pihaknya juga membawa serta grup kesenian tradisional dari Kecamatan Kledung dan Kecamatan Bulu. Mereka akan memeriahkan aksi dan menghibur para peserta. Sedangkan untuk tuntutan aksi, masih tetap sama menolak dengan tegas RPP Tembakau.

“Itu (RPP Tembakau) akan membuat kami kehilangan pekerjaan dan kesejahteraan. Ini adalah aksi kami yang kesekian kalinya. Namun tuntutan kami tetap sama, tolak RPP Tembakau. Sebab kami telah hidup dari tembakau sejak ratusan tahun lalu,” tegasnya.

Pengurus APTI Temanggung, Subakir menegaskan, para petani tembakau dari anggota organisasi APTI akan kembali menggelar aksi seperti ini apabila aspirasi yang disampaikan nanti di Jakarta tidak mendapat tanggapan yang positif. Karenanya diharapkan pemerintah harus serius menanggapinya.



“Aksi besar akan kami gelar kembali. Apabila hasil keputusan pemerintah nanti tidak memberikan dampak postif bagi petani tembakau. Masyarakat petani tembakau tidak ingin kehilangan pekerjaan,” ungkap laki-laki yang juga Kepala Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo ini.

Jika pemerintah tetap akan mengesahkan RPP Tembakau, imbuhnya, masyarakat Temanggung khususnya petani tembakau akan melakukan aksi pembangkangan membayar pajak. Selain itu, tidak akan menyuarakan hak pilihnya dalam pemilu, serta pembangkangan terhadap semua regulasi pemerintahan.

“Sebab kami juga tidak dianggap warga negara oleh pemerintah. Aspirasi kami tidak didengarkan. Pemerintah malah menjadikan kami miskin dengan menghilangkan pekerjaan kami,” jelasnya.
Editor : budi_pras
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Buku CPNS 2021

Tryaout CPNS 2021